Lewati ke konten

Bagaimana mengatasi pernikahan yang sedang mengalami krisis melalui ajaran Tuhan

    Pernikahan adalah lembaga suci yang diciptakan oleh Tuhan sejak awal Penciptaan. Ketika Tuhan menciptakan Adam, Ia menyadari bahwa tidak baik bagi manusia untuk hidup sendirian.

    Kemudian, Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi pendamping Hawa, dengan satu tujuan saja: agar pasangan itu memiliki anak-anak untuk mengisi Bumi.

    Hal ini tidak berbeda dengan keadaan saat ini. Pernikahan tetap merupakan lembaga yang suci. Namun, Tuhan tahu bahwa ada masa-masa sulit dalam sebuah pernikahan, betapapun pasangan tersebut bersatu sebagai satu kesatuan dalam nama-Nya.

    Dalam hal ini, pria dan wanita perlu memiliki tanggung jawab emosional untuk menyelesaikan konflik mereka dengan cara yang Kristen, dengan mengikuti nasihat dari Alkitab sendiri mengenai perilaku yang baik dalam pernikahan.

    Tanpa hal tersebut, ada risiko besar bahwa pernikahan tidak akan berhasil. Hal ini karena pernikahan adalah lembaga suci yang diciptakan oleh Tuhan. Hanya Dialah yang memiliki jawaban untuk menjaga hubungan Kristen yang sehat. Oleh karena itu, ikutilah ajaran Tuhan untuk menjaga pernikahan Kristen Anda. 

    Gambar: Pixabay – Reproduksi

    6 tips untuk mengatasi pernikahan yang sedang mengalami krisis

    Simak daftar 6 tips untuk mengatasi pernikahan yang sedang mengalami krisis melalui ajaran Tuhan yang tertulis dalam Alkitab.

    1.  Biarkan amarah mereda sebelum menyelesaikan suatu konflik

    Begitu konflik dalam pernikahan dimulai, muncul dorongan dan godaan untuk berteriak, menghina, menyakiti, dan menyinggung pasangan. Namun, dalam Amsal 12:16 diajarkan bahwa hanya orang bodohlah yang meluapkan amarahnya karena alasan apa pun.

    Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pasangan Kristen sejati menunggu hingga amarah mereda untuk menyelesaikan konflik melalui percakapan yang tegas, tenang, koheren, langsung, dan bebas dari tindakan atau ucapan yang merusak, yang hanya akan memperburuk situasi.

    2.  Maafkanlah dan terimalah pengampunan

    Tuhan menawarkan pengampunan kepada semua manusia dan mengajarkan agar Anda juga mengampuni dan diampuni dalam pernikahan Kristen. Jika membiarkan kebencian merasuki pernikahan, seperti yang disebutkan dalam Amsal 10:12, yang akan terjadi hanyalah konsekuensi seperti pertengkaran dan kekacauan. Sebaliknya, cinta sejati mampu memaafkan segala pelanggaran.

    Dalam hal ini, mintalah maaf dan berikanlah pengampunan juga. Anda juga dapat mengharapkan perilaku yang sama dari pasangan Anda dalam pernikahan Kristen yang sejati.

    3. Berlakulah sopan

    Kitab Mazmur memberikan banyak petunjuk mengenai hubungan antarmanusia. Salah satu petunjuk tersebut terdapat dalam Amsal 19:14, yang menganjurkan agar Anda selalu berbicara dengan cara yang menyenangkan.

    Ini berarti menghormati pasangan Anda saat menyelesaikan konflik. Setelah pasangan tersebut berhasil menenangkan diri, inilah saatnya untuk berbicara dengan penuh hormat, tanpa kata-kata yang menyinggung, kritik, tuduhan, maupun ungkapan-ungkapan beracun lainnya, yang bahkan dapat menyakiti pasangan Anda.

    Yang terbaik adalah berfokus pada penyelesaian masalah dan mempraktikkan pengampunan.

    4.  Pertimbangkanlah konflik tersebut sebelum berbicara dengan pasangan Anda

    Dalam Matius 7:3, diajarkan agar kita tidak hanya melihat kesalahan orang lain, menghakimi, atau mengkritik. Kita perlu melakukan introspeksi setelah terjadi konflik untuk memahami kesalahan apa yang telah kita lakukan.

    Dengan demikian, Anda akan lebih mudah meminta maaf atas kesalahan atau kelalaian Anda. Ini adalah cara yang sangat ampuh untuk menjaga keutuhan pernikahan Kristen: menyadari hal-hal yang salah yang Anda lakukan, merasa menyesal, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan tersebut.

    5.  Untuk menyelesaikan konflik, pilihlah kata-kata dengan bijak

    Saat menyelesaikan konflik, yang ideal adalah memilih kata-kata yang akan Anda ucapkan kepada pasangan dengan cermat, secara tegas. Dalam Amsal 29:20, diajarkan bahwa orang yang terburu-buru berbicara adalah orang yang tidak bertanggung jawab.

    Itu adalah kebenaran mutlak, apalagi dalam pernikahan. Dengan kata-kata yang salah, kita bisa melakukan tindakan kekerasan verbal yang sulit diperbaiki atau bahkan dimaafkan di kemudian hari.

    6.  Belajarlah untuk mendengarkan pasangan Anda

    Dalam Amsal 16:32, diajarkan bahwa Anda perlu bersabar terhadap sesama dan juga dalam menyelesaikan konflik. Hal ini berarti bersabar menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikan konflik serta mau mendengarkan pasangan.

    Saling menghormati sangat penting dalam sebuah pernikahan. Artinya, Anda juga berhak mengharapkan pasangan Anda untuk menghormati dan mendengarkan semua yang ingin Anda sampaikan.

    Dalam hal ini, yang ideal adalah berbicara dan mendengarkan, agar pasangan tersebut dapat mencapai solusi bersama, bukan solusi yang egois, sombong, atau yang hanya menguntungkan salah satu pihak yang terlibat.